
Sedikit jauh di luar kota. Lampu tempel minyak tanah yang disetel terlalu besar. Bayang-bayang bergulana di terpal oranye … hap … cakar bacem. Krauk … krupuk beras. Ji mo ji mo lu mo nem ji ji … pelajaran nembang serak menyelusup dari radio transistor. Sekali lagi angin menyemilir dari sawah di belakang. Lelampuan berlarian dari Yamaha dan Suzuki dan Honda di jalan beraspal di seberang sawah. “Tegal Jenggotan,” katanya.
Pulang dari nonton pentas yang ternyata di luar dugaan tidak sebagus yang kubayangkan sebelumnya, barangkali satu dua gigitan sate usus bisa mengobati dahaga filosofis malam tadi. Pun di angkringan pedalaman tengah kampung yang belum pernah ku – kami – kunjungi. Tapi ini masih malam.
Satu hal yang kupikirkan, mengapa sebuah pementasan bisa tertampil seperti itu. Ah, tapi bukan pada posisi dan kredibilitasku untuk menilai – apalagi menghakimi – sesuatu. Apa sih yang bisa didapat dari ranah gratisan. Sudah lumayan dapat setup jambu dan jahe panas kenthel. Namun barangkali ketika istilah “biasa” menjelma menjadi “keharusan”, barangkali ada ratusan penonton yang kecewa. Bung, tidak biasanya Jagongan Wagen di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menampilkan performance yang – maaf – terasa garing. Memang, mungkin mataku menipu.