Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2014

Void

Entah bagaimana, aku lalu memikirkan kesendirian. Ini tentu bukan hal yang tabu. Memang, manusia dikenal sebagai makhluk yang hidupnya berkoloni, membentuk masyarakat, saling menopang (dan saling menghancurkan). Mirip bakteri. Virus. Makhluk sosial, kata guruku SMP dulu. Tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak membutuhkan kesendirian. Dan satu-satunya kesendirian yang bisa dicapai seseorang adalah kesendirian relatif terhadap masyarakat. Menciptakan jarak, membangun waktu jeda: sehingga ada waktu untuk bereaksi terhadap apa yang terjadi di "bawah matahari".

Ibuku sering memberi ilustrasi pohon pisang. Katanya, segerombolan tunas pisang memang harus diceraikan agar bisa tumbuh besar dan dan berbuah baik. Dan itulah yang sering dilakukan bapakku dulu. "Memencarkan" tunas-tunas muda pohon pisang yang mungkin tingginya baru 1 meter, untuk ditanam di tempat terpisah. Di tempat baru itu, si tunas muda akan menumbuhkan tunas-tunas baru, hingga suatu saat nanti si tunas-tunas paling baru akan mendapatkan kesempatan untuk dipisahkan. Hidup berlangsung melalui periode-periode demikian; bersatu, berpisah, bersatu, dan berpisah ....

Hal itu menyebabkan aku tidak percaya pada komunitas sebagai satu-satunya jalan keluar. Komunitas yang baik hanya bisa terus baik jika individualitas (ini kalau aku tak salah sebut) masing-masing anggotanya dihargai. Individualitas di sini bukanlah "individualitas" berkonotasi negatif (yang sering kita dengar dikaitkan dengan individualistis, egoisme, dan - bahkan - keserakahan). Melainkan penghargaan atas individu dengan segala corak dan ragamnya. Selera, gaya, keinginan, tujuan, maksud, bahkan bahasa dan "bahasa" yang digunakan untuk mewujudnyatakan dirinya di tengah komunitas. Lebih luas lagi, di tengah masyarakat.

Minggu, 03 Februari 2013

Menulis

Beberapa hari lalu Mbak Kris menyarankan agar aku meneruskan ngeblog. Beberapa bulan lalu, aku berniat untuk meneruskan menulis blog. Sepertinya kembali menulis blog secara rutin adalah ide yang lumayan bagus. Tetapi sebagaimana ingatan melawan lupa, menjaga rutinitas menulis -- apalagi bagi orang yang kerap didera bosan seperti aku ini -- ibarat mendorong batu ke atas bukit, lalu menggelindingkannya ke bawah, lalu mendorong lagi, menggelindingkannya lagi. Seperti Sisypus.

Aku jadi teringat saat melempar bola tenis bekas ke lapangan, terus diambil oleh anjingku dengan bersemangat. Ekor mengibas-ngibas, lidah yang terjulu, napas mendengus keras, ... Padahal kalau dipikir-pikir, buat apa ia mengambilkan aku bola tenis kalau nantinya juga kulempar. Sisypus dalam wujud Canis lupus familiaris! Dengan superioritas spesiesku yang tidak superior ini, aku kerap melirik masam ke sang anjing, sambil memberi perintah tolol. "Ambil bola itu. Cepat. Cemet!". Menggertak hanya untuk sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Toh kalau anjingku sebenarnya hanya ingin berolah raga, ia bisa minta diputarkan MP3 SKJ 88 (Senam Kesegaran Jasmani 1988).