Tampilkan postingan dengan label sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sendiri. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2014

Void

Entah bagaimana, aku lalu memikirkan kesendirian. Ini tentu bukan hal yang tabu. Memang, manusia dikenal sebagai makhluk yang hidupnya berkoloni, membentuk masyarakat, saling menopang (dan saling menghancurkan). Mirip bakteri. Virus. Makhluk sosial, kata guruku SMP dulu. Tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak membutuhkan kesendirian. Dan satu-satunya kesendirian yang bisa dicapai seseorang adalah kesendirian relatif terhadap masyarakat. Menciptakan jarak, membangun waktu jeda: sehingga ada waktu untuk bereaksi terhadap apa yang terjadi di "bawah matahari".

Ibuku sering memberi ilustrasi pohon pisang. Katanya, segerombolan tunas pisang memang harus diceraikan agar bisa tumbuh besar dan dan berbuah baik. Dan itulah yang sering dilakukan bapakku dulu. "Memencarkan" tunas-tunas muda pohon pisang yang mungkin tingginya baru 1 meter, untuk ditanam di tempat terpisah. Di tempat baru itu, si tunas muda akan menumbuhkan tunas-tunas baru, hingga suatu saat nanti si tunas-tunas paling baru akan mendapatkan kesempatan untuk dipisahkan. Hidup berlangsung melalui periode-periode demikian; bersatu, berpisah, bersatu, dan berpisah ....

Hal itu menyebabkan aku tidak percaya pada komunitas sebagai satu-satunya jalan keluar. Komunitas yang baik hanya bisa terus baik jika individualitas (ini kalau aku tak salah sebut) masing-masing anggotanya dihargai. Individualitas di sini bukanlah "individualitas" berkonotasi negatif (yang sering kita dengar dikaitkan dengan individualistis, egoisme, dan - bahkan - keserakahan). Melainkan penghargaan atas individu dengan segala corak dan ragamnya. Selera, gaya, keinginan, tujuan, maksud, bahkan bahasa dan "bahasa" yang digunakan untuk mewujudnyatakan dirinya di tengah komunitas. Lebih luas lagi, di tengah masyarakat.

Rabu, 20 Juni 2012

Sepi itu Korban, Rame itu juga Korban

Sekali lagi menambahi tulisan tidak penting. Aku ingat suatu hari berjuta tahun yang lalu ada seorang teman bertanya, "Apakah kesepian bisa membunuhku?" Ketahuan, batinku. Maksudku, ketahuan nyontek lagunya SLANK zaman itu: "Terbunuh Sepi". Bagaimanapun juga aku lupa apa jawabku. Mungkin nggak strategis dan profitable untuk diingat. Kurang lebih, aku tak pernah merasa bahwa kesepian mampu membunuh. Justru kita yang tak pernah bosan membunuhi sepi. Sehari bisa sampai belasan kali. Namun ibarat mati satu tumbuh seribu.

Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.

Sabtu, 16 Juni 2012

Pagi Hari


Pagi hari seperti ini: dingin, menyegarkan, berbau sabun, dan di hari Sabtu pula. Sisa-sisa pilek kemarin masih menyebabkan hidung-tenggorokan tidak nyaman. Pening sedikit. Mulut berasa seperti karat. Tambah sedikit absurd saat bangun tidur disambut lagu-lagu melayu cengeng tetangga, disambung perdebatan siapa yang akan berangkat mengambil raport. Ah, rumah di depan kamar. Mungkin suatu saat aku memindahkan kamarku di depan hutan. Atau kebun binatang saja. Setidaknya suara lengkingan gajah membuatku semangat, berasa menjadi Tarzan.

Aku tergoda untuk teringat zaman masih kecil dulu, ketika menyambut hari tanpa sekolah. Bisa mandi agak siang, bisa main lebih lama, bahkan bermain lebih jauh. Wah. Tetapi mengingat masa kecil bukanlah langkah strategis hari ini. Mengingat banyak pekerjaan yang menuntut untuk disentuh, mengingat banyak perubahan yang harus kulakukan, dan mengingat bahwa memang sangat banyak yang harus diingat. [1]

Minggu, 10 Juni 2012

Sejarah Tidak Penting


“Pasti ada maksud, mengapa Tuhan membiarkan kita lahir di dunia ini sendiri-sendiri (tentu kecuali kasus kembar siam, misalnya). Pasti ada sebab, mengapa kia tidak lahir tanpa pasangan, kekasih, cinta mati kita, dalam satu kali melahirkan. Seandainya demikian, hidup akan jauuuh lebih sederhana. Sinetron-sinetron akan tidak laku dan kehilangan sengatnya. Namun, sekali lagi … pasti ada maksud tertentu”
Mon ami, ini saatnya aku curhat. Dalam sebuah blog yang – thx God – anonymous ini, rasanya tak salah jika di hari Minggu yang nyaman dan tenang ini aku sedikit mengungkapkan atau lebih tepatnya “menelorkan” … membersihkan ingus kering … uthik-uthik upil, ngorek curek. Seperti yang sering kutulis di blog-ku dulu yang sudah koit, menulis bagiku adalah sarana agar tetap dianggap waras. Aku ini waras tetapi tidak gila.

Nah, begini ceritanya. Seperti yang barusan aku SMS-kan ke seorang temanku, “Ra duwe yang ki anugerah.” Tidak punya pacar itu anugerah. (Perkara kalian akan membatin bahwa ini adalah suara sarkastik agar Tuhan tersindir, itu soal lain. Ga ada gunanya membuat Beliau tersindir. Lagi pula aku bukan orang yang suka menyindir. Say it or telan saja!) Bagaimanapun juga, tidak punya pacar adalah suatu hak asasi setiap manusia. setiap orang punya hak untuk menerima suatu kondisi yang di dalamnya ia tak memiliki kendali 100%. Dan tak satupun manusia memiliki kendali 100% atas sesuatu, bukan?

Hahaha … aku kangen dengan tulisanku sendiri yang muter-muter kayak jejak jangkrik gini. Hahaha. (Itulah sebabnya tulisan ini disebut blog. Bukan The Fundamental of Thermodynamics in Planet Tatooine by Master Jedi.)