Entah bagaimana, aku lalu memikirkan kesendirian. Ini tentu bukan hal yang tabu. Memang, manusia dikenal sebagai makhluk yang hidupnya berkoloni, membentuk masyarakat, saling menopang (dan saling menghancurkan). Mirip bakteri. Virus. Makhluk sosial, kata guruku SMP dulu. Tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak membutuhkan kesendirian. Dan satu-satunya kesendirian yang bisa dicapai seseorang adalah kesendirian relatif terhadap masyarakat. Menciptakan jarak, membangun waktu jeda: sehingga ada waktu untuk bereaksi terhadap apa yang terjadi di "bawah matahari".
Ibuku sering memberi ilustrasi pohon pisang. Katanya, segerombolan tunas pisang memang harus diceraikan agar bisa tumbuh besar dan dan berbuah baik. Dan itulah yang sering dilakukan bapakku dulu. "Memencarkan" tunas-tunas muda pohon pisang yang mungkin tingginya baru 1 meter, untuk ditanam di tempat terpisah. Di tempat baru itu, si tunas muda akan menumbuhkan tunas-tunas baru, hingga suatu saat nanti si tunas-tunas paling baru akan mendapatkan kesempatan untuk dipisahkan. Hidup berlangsung melalui periode-periode demikian; bersatu, berpisah, bersatu, dan berpisah ....
Hal itu menyebabkan aku tidak percaya pada komunitas sebagai satu-satunya jalan keluar. Komunitas yang baik hanya bisa terus baik jika individualitas (ini kalau aku tak salah sebut) masing-masing anggotanya dihargai. Individualitas di sini bukanlah "individualitas" berkonotasi negatif (yang sering kita dengar dikaitkan dengan individualistis, egoisme, dan - bahkan - keserakahan). Melainkan penghargaan atas individu dengan segala corak dan ragamnya. Selera, gaya, keinginan, tujuan, maksud, bahkan bahasa dan "bahasa" yang digunakan untuk mewujudnyatakan dirinya di tengah komunitas. Lebih luas lagi, di tengah masyarakat.
Tampilkan postingan dengan label membunuh sepi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label membunuh sepi. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 September 2014
Void
Label:
kesendirian,
membunuh sepi,
menulis,
njelehi,
sendiri,
urip
Jumat, 20 Desember 2013
Hujan
Pagi-pagi hujan seperti ini. Suara butiran airnya
mengingatkan aku pada ombak dan angin. Tetesan air yang satu demi satu meluncur
dari ujung daun memantulkan kelabunya langit. Di balik kaca jendela, kamarku
terang dan hangat (meski kotor, pating
jemplah, dan apek). Di balik kaca jendela di dalam kaca jendela, aku
berwarna hijau laut.
Bunyi tetesan air. Teringat suatu perjalanan yang belum
selesai. Memutari gunung mengatasi tanjakan, melihat puncak-puncak bukit
berkabut dari sela pohon, dan bunga-bunga liar yang basah. Aku di sana atau
benakku di sana tidaklah beda. Karena “tidak beda” itu ilusi dan pengalaman itu
imajinatif. Dalam perjalanan itu aku menemukan pondok. Mirip saat aku dan Kamto
belasan tahun lalu menemukan warung kopi di tengah hujan dan dingin setelah
memanjat tebing Kali Kuning. Mirip Kapten Haddock menemukan pelabuhan ketika
botol-botolnya kosong. Lalu burung-burung pagi yang enggan terbang
memanfaatkannya dengan menciptakan quality
time, mendongeng tentang sahabat lama bernama hujan. Hadir saat gemalau
berwarna lembayung dan awan kelabu adalah air tempat kuas Tuhan dibersihkan
setelah mahakarya-Nya dipajang tiap pagi dan senja.
Label:
hujan,
membunuh sepi,
pagi,
pagi hari,
tidak penting,
writting
Rabu, 20 Juni 2012
Sepi itu Korban, Rame itu juga Korban
Sekali lagi menambahi tulisan tidak penting. Aku ingat suatu hari berjuta tahun yang lalu ada seorang teman bertanya, "Apakah kesepian bisa membunuhku?" Ketahuan, batinku. Maksudku, ketahuan nyontek lagunya SLANK zaman itu: "Terbunuh Sepi". Bagaimanapun juga aku lupa apa jawabku. Mungkin nggak strategis dan profitable untuk diingat. Kurang lebih, aku tak pernah merasa bahwa kesepian mampu membunuh. Justru kita yang tak pernah bosan membunuhi sepi. Sehari bisa sampai belasan kali. Namun ibarat mati satu tumbuh seribu.
Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.
Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.
Label:
Aung Suu Kyi,
DK PBB,
ICRC,
janur kuning,
kesepian,
kontroversi,
mahkamah internasional,
membunuh sepi,
operasi trisula,
Partai Demokrat,
relationship,
sarkasme,
saving private ryan,
sendiri,
the hague
Langganan:
Postingan (Atom)

