Tampilkan postingan dengan label pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pagi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Desember 2013

Hujan

Pagi-pagi hujan seperti ini. Suara butiran airnya mengingatkan aku pada ombak dan angin. Tetesan air yang satu demi satu meluncur dari ujung daun memantulkan kelabunya langit. Di balik kaca jendela, kamarku terang dan hangat (meski kotor, pating jemplah, dan apek). Di balik kaca jendela di dalam kaca jendela, aku berwarna hijau laut.

Bunyi tetesan air. Teringat suatu perjalanan yang belum selesai. Memutari gunung mengatasi tanjakan, melihat puncak-puncak bukit berkabut dari sela pohon, dan bunga-bunga liar yang basah. Aku di sana atau benakku di sana tidaklah beda. Karena “tidak beda” itu ilusi dan pengalaman itu imajinatif. Dalam perjalanan itu aku menemukan pondok. Mirip saat aku dan Kamto belasan tahun lalu menemukan warung kopi di tengah hujan dan dingin setelah memanjat tebing Kali Kuning. Mirip Kapten Haddock menemukan pelabuhan ketika botol-botolnya kosong. Lalu burung-burung pagi yang enggan terbang memanfaatkannya dengan menciptakan quality time, mendongeng tentang sahabat lama bernama hujan. Hadir saat gemalau berwarna lembayung dan awan kelabu adalah air tempat kuas Tuhan dibersihkan setelah mahakarya-Nya dipajang tiap pagi dan senja.

Rabu, 17 Juli 2013

Wis Esuk

05.49 AM. Pagi semacam ini yang tidak begitu kusukai. Aku sudah bisa membuka mata sekitar 2-3 jam lalu, tetapi rasanya malas untuk bangun. Ingin terus bermimpi. Seperti nonton film nunggu klimaks yang tak kunjung datang. Seperti ada benang-benang halus kenikmatan yang memaksaku bersembunyi di bawah selimut, merayuku habis-habisan untuk tidak membuka mata, sembari tutup telinga rapat-rapat. Udara yang dingin menerobos ventilasi, bak zat magis ungu tua yang membuatku tersihir untuk memilih tidur terus. Suara kicau burung, bunyi gesekan sapu di halaman, gemerincing sepeda anak sekolah yang lewat di depan rumah, menjadi suara latar yang semakin meninabobokkan. Jangan bangun dulu, sayang. Dunia bisa menunggu.

Sayangnya, film harus usai, layar panggung harus diturunkan, dan tak ada lagi yang tersisa untuk dinikmati di alam mimpi. Ini adalah momen-momen di kala kita akan terasa pening jika memaksa diri tidur terus. Secara biologis, ini sudah waktunya bangun tidur. Bahkan tubuh biologisku sebenarnya mengizinkanku bangun sejak 2-3 jam lalu. Jadi, aku harus membuka mata, menguap lebar-lebar dan selama mungkin, menggeliat sambil menggeram panjang, lalu terdiam. Mataku menatap atap. Mataku berkabut dengan tahi mata dan segenap kotoran seperti biasanya. Aku jadi mirip beruang yang selesai hibernasi. Tetapi, ....