Kamis, 28 Juni 2012

Tulisan Tidak Penting Lainnya


Menulis itu bikin malas. Menulis membuatku menunda mandi, menunda makan, dan menunda tidur lagi. Tetapi mungkin menulis jadi salah satu alasan agar aku tetap berpikir dan tidak tidur-tiduran seperti sayuran sepanjang hari. Lagipula, mungkin karena menulis sesuatu yang tidak penting justru mengemban misi mulia nan penting untuk menjaga diriku tetap waras. Terlepas apakah aku waras atau tidak, setidaknya saya menduga kita sama-sama setuju bahwa kewarasan itu perlu.

Ngelantur soal kewarasan, jadi ingat bukankah kewarasan itu hanya persoalan kurva normal? Dan siapakah maha dewa agung yang menciptakan kurva normal sehingga memisahkan manusia dari waras dengan tak waras? Saya tidak tahu. Pula, saya tak mau menambahi pekerjaan dengan mencari hal yang tak perlu. Toh, Anda pasti tidak mau memberi fee untuk itu.

Jelasnya, kurva normal itu tak perlu dipahami secara akademis dan ndakik-ndakik scientific thinking  oleh mendiang simbah saya untuk menentukan apakah unggas yang ada ditangannya seekor ayam atau bebek. Cukup melihat sekilas, beliau tahu betul bahwa ayam jauh berbeda dengan bebek. Tanpa perlu tes DNA.

Rabu, 20 Juni 2012

Sepi itu Korban, Rame itu juga Korban

Sekali lagi menambahi tulisan tidak penting. Aku ingat suatu hari berjuta tahun yang lalu ada seorang teman bertanya, "Apakah kesepian bisa membunuhku?" Ketahuan, batinku. Maksudku, ketahuan nyontek lagunya SLANK zaman itu: "Terbunuh Sepi". Bagaimanapun juga aku lupa apa jawabku. Mungkin nggak strategis dan profitable untuk diingat. Kurang lebih, aku tak pernah merasa bahwa kesepian mampu membunuh. Justru kita yang tak pernah bosan membunuhi sepi. Sehari bisa sampai belasan kali. Namun ibarat mati satu tumbuh seribu.

Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.

Sabtu, 16 Juni 2012

Pagi Hari


Pagi hari seperti ini: dingin, menyegarkan, berbau sabun, dan di hari Sabtu pula. Sisa-sisa pilek kemarin masih menyebabkan hidung-tenggorokan tidak nyaman. Pening sedikit. Mulut berasa seperti karat. Tambah sedikit absurd saat bangun tidur disambut lagu-lagu melayu cengeng tetangga, disambung perdebatan siapa yang akan berangkat mengambil raport. Ah, rumah di depan kamar. Mungkin suatu saat aku memindahkan kamarku di depan hutan. Atau kebun binatang saja. Setidaknya suara lengkingan gajah membuatku semangat, berasa menjadi Tarzan.

Aku tergoda untuk teringat zaman masih kecil dulu, ketika menyambut hari tanpa sekolah. Bisa mandi agak siang, bisa main lebih lama, bahkan bermain lebih jauh. Wah. Tetapi mengingat masa kecil bukanlah langkah strategis hari ini. Mengingat banyak pekerjaan yang menuntut untuk disentuh, mengingat banyak perubahan yang harus kulakukan, dan mengingat bahwa memang sangat banyak yang harus diingat. [1]

Minggu, 10 Juni 2012

Sejarah Tidak Penting


“Pasti ada maksud, mengapa Tuhan membiarkan kita lahir di dunia ini sendiri-sendiri (tentu kecuali kasus kembar siam, misalnya). Pasti ada sebab, mengapa kia tidak lahir tanpa pasangan, kekasih, cinta mati kita, dalam satu kali melahirkan. Seandainya demikian, hidup akan jauuuh lebih sederhana. Sinetron-sinetron akan tidak laku dan kehilangan sengatnya. Namun, sekali lagi … pasti ada maksud tertentu”
Mon ami, ini saatnya aku curhat. Dalam sebuah blog yang – thx God – anonymous ini, rasanya tak salah jika di hari Minggu yang nyaman dan tenang ini aku sedikit mengungkapkan atau lebih tepatnya “menelorkan” … membersihkan ingus kering … uthik-uthik upil, ngorek curek. Seperti yang sering kutulis di blog-ku dulu yang sudah koit, menulis bagiku adalah sarana agar tetap dianggap waras. Aku ini waras tetapi tidak gila.

Nah, begini ceritanya. Seperti yang barusan aku SMS-kan ke seorang temanku, “Ra duwe yang ki anugerah.” Tidak punya pacar itu anugerah. (Perkara kalian akan membatin bahwa ini adalah suara sarkastik agar Tuhan tersindir, itu soal lain. Ga ada gunanya membuat Beliau tersindir. Lagi pula aku bukan orang yang suka menyindir. Say it or telan saja!) Bagaimanapun juga, tidak punya pacar adalah suatu hak asasi setiap manusia. setiap orang punya hak untuk menerima suatu kondisi yang di dalamnya ia tak memiliki kendali 100%. Dan tak satupun manusia memiliki kendali 100% atas sesuatu, bukan?

Hahaha … aku kangen dengan tulisanku sendiri yang muter-muter kayak jejak jangkrik gini. Hahaha. (Itulah sebabnya tulisan ini disebut blog. Bukan The Fundamental of Thermodynamics in Planet Tatooine by Master Jedi.)

Jumat, 02 Desember 2011

Kalian Bukan Gila, Hanya Kurang Beruntung


Mungkin aku ini orang gila. Tetapi, tidak perlu cemas. Karena kegilaan itu – bagaimanapun juga – masih merupakan hasil perhitungan statistik bahwasanya mereka yang berada di luar kurva normal adalah tidak waras alias gila. Kenthir!

Namun, aku menyadari bahwa segila-gilanya aku, itu hanyalah bagaimana Anda memandangnya: dari sisi mayoritas, atau dari sisi minoritas. Misalnya begini: anggap saja seluruh dunia ini, lebih dari 97,5% umat manusia, memiliki 1 hidung. Benar? Sekarang coba bayangkan apabila suatu hari ada sejenis gen tertentu yang menyebabkan seseorang berikut keturunannya memiliki 2 buah hidung. Bagaimana tanggapan masyarakat? Pertama yang bereaksi adalah media. Maklum, aktualitas adalah apa yang ingin dilihat/dibaca orang (dan coba tebak, apa yang diinginkan orang gila?). Lalu keluarga orang-orang yang berhidung ganda ini serta merta dimasukkan dalam kategori “aneh”, “langka”, dan sedetik kemudian menjadi “abnormal”, lalu – karena orang-orang secara naluriah merasa tidak nyaman berada di antara sesamanya yang “berbeda” – dimulailah usaha untuk menormalkan keluarga si hidung ganda.

Sabtu, 30 Juli 2011

Marzuki Ali Sakit?


Ada apa dengan Marzuki Ali? Apakah ia sakit? Ucapannya kemarin yang mengusulkan pembubaran KPK lantaran salah satu pimpinannya bertemu Nazaruddin membuat saya sedikit kaget. Lebih melongo lagi ketika muncul pernyataan lanjutan untuk “mengampuni” para koruptor yang lari ke luar negeri. Piiran saya jadi berkecamuk. Jika hal ini terjadi di suatu negeri benua seberang sana – yang nama-nama pemimpinnya sulit dilafalkan – maka saya akan meneruskan menikmati makan malam dengan riang seperti biasa.
Saya jadi teringat perbincangan beberapa hari lalu dengan seorang pendidik di bidang hukum. Politik adalah ilmu untuk memutuskan sesuatu dengan bijaksana. Bukan “membuat kebijakan” itu sendiri. Dan sama sekali – mestinya – bukan ilmu untuk memperoleh dan atau melanggengkan kekuasaan. Tetapi, demi seluruh pahlawan yang tewas di zaman kemerdekaan, kok banyak ucapan politisi negeri ini berbau kentut ya: dan kita adalah lubang kakus yang – diharapkan – menerima begitu saja hasil metabolisme orang yang rakus.
Ah, aku jadi berpikir terlalu banyak.
Apalagi si Marzuki ini adalah wakil ketua dewan pembina Partai Demokrat, partai yang kini berkuasa di Indonesia Raya. Siapa ketuanya? Tak lain tak bukan adalah si presiden kita yang masih gembar pupuran nganggo tlethong.

You-know-who

Baru saja ke Perpustakaan Kota Yogya. Numpang duduk-kerja-ketemu orang. Memang tidak saling kenal, saling sapa pun tidak. Tapi setidaknya jadi tidak lupa bahwa orang itu punya rasa ingin tahu, punya rasa ge-er jika diperhatikan (atau risih malah), dan senang merasa nyaman. Dus, di bawah kanopi beton yang pura-puranya artistik (tetapi tidak nyaman buat baca buku), kami bersama-sama mencoba menaga kenyamanan orang lain yang begitu sulit didapat akhir-akhir ini.

Jadi ingat you-know-who. Beliaunya di sela-sela tuduhan politik gincu branding image (lihat rujukan menggelitik di Kompas.com ini), ternyata barangkali ada faedahnya juga, yaitu untuk sementara membuat orang menjadi nyaman. Aku jadi teringat gaya bahasa standar karyawan hotel atau petugas call center. Yang penting tone-nya bagus dan enak di telinga. Nyaman buat kerja.