Sabtu, 13 Desember 2014

Sulit

Kemudian demi kesehatan dan kesejahteraan umat, maka sudah tiba waktunya bagiku ntuk menuliskan apa yang kudapatkan dari hasil membaca (dengan pontang-panting) buku-buku dan tulisan mengenai semiotika. Sulit. Sulit putik.  Akhirnya, yang paling lama kubaca dan yang paling banyak kucorat-coret adalah tulisannya Pak Nardi di “Semiotika Negativa”. Meskipun beliaunya enggan bukunya menjadi referensi, tetapi aku ternyata tidak memiliki pilihan lain. Lebih tepatnya “sengaja” tidak memiliki pilihan lain yang lebih mudah. Karena yang lebih sulit dibaca, banyak. (Kayak iklan Hit: “... Kalau yang lebih mahal, banyak”. Iklan yang dimaksudkan oleh si copywriter agar calon pembeli berpikir mencari yang lebih baik, bukan yang lebih mahal.) Tapi di sini peduli setan dengan mencari yang lebih baik. Aku mencari yang lebih mudah. Maklum, mental proletar: mudah-murah-meriah. Kembali ke topik: aku harus melakukan sesuatu bersumber dari buku. Ini susahnya. Jauh lebih mudah berkhayal dan berimajinasi.

Baiklah, aku harus memulai. Singkirkan kata “sulit”.

Ah, kata “SULIT”! Bagaimana cara menyingkirkan sebuah kata yang pada saat menyingkirkannya aku harus menyebutnya? Semakin aku mengatakan “singkirkan kata sulit”, maka kata “sulit” semakin sering terucap dan menjadi mitos: bahwasanya sulit untuk menyingkirkan kata sulit. Ini mirip virus HIV. Dikasih sel darah putih buat menyerang, eh malah dijadikan inang. Benar-benar mirip warga Hogwarts ingusan yang takut menyebut Voldemort. Dan belakangan memang dengan menyebut nama Voldemort, maka si “you know who” ini mendapatkan kekuatannya; pengakuan akan eksistensinya. Diusir adalah sama dengan pengakuan bahwa dirinya ada.

Aku jadi teringat beberapa kejadian belakangan ini yang semakin mempertebal keyakinanku bahwa membenci itu adalah pengakuan bahwa sesuatu yang dibenci itu ada. Sebaliknya, lebih baik dibenci (atau dipukuli) ketimbang dianggap tidak ada. Diabaikan, dicueki, dan dianggap tidak ada adalah  salah satu bentuk kekerasan verbal paling menyakitkan (yang justru dilakukan secara non-verbal).

Ingatanku yang kurang kerjaan ini kemudian terbayang adegan-adegan film “Senyap”. Beberapa tokoh (yang kebetulan berperan antagonis – lebih tepatnya “anaknya si antagonis”) kerap nian mengatakan “sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu”, “tidak usah diingat-ingat”, “jangan dikorek-korek”, “jangan membangkitkan rasa sakit”, dan seterusnya. Pengabaian. Menganggapnya tidak ada. Dalam hal ini, aku jadi bepikir, sebenarnya siapakah yang mengalami trauma? Korban pembantaian PKI (dan orang-orang yang dianggap PKI), atau justru pelaku-pelakunya? Karena dengan adanya ketidakberanian dalam mengingat, berarti ia sedang menjalankan “strategi” agar dirinya tetap waras. Mengalihkan ingatannya ke dalam bentuk-bentuk heroik, menuliskannya dalam buku perjuangan, memberi label “demi negara”, memberi alasan-alasan, dan seterusnya ... sampai kemudian ajal menjemput, dan sekian mikrodetik sebelum arwah terbawa angin, muncullah kesadaran – bangun – bahwasanya tidur sudah terlampau panjang. Dan orang-orang yang tidur inilah yang layak dikasihani. Sangat tipikal dengan keyakinan meminum darah korban agar dirinya tidak gila. Sebenarnya cukup masuk akal. Bukan pada minum darahnya, tetapi pada pengalihan ingatan traumatiknya ke dalam tindakan nyata.

Tetapi tentu saja hal ini tidak bisa menjadi ukuran. Sangat tidak memenuhi kaidah penelitian paling konyol sekalipun.  

Ah, pikiranku melayang.

Kembali aku ingat bahwa awal mula aku menulis di sini adalah sebagai pengalihan atas tulisan lain yang sama sekali belum selesai, tetapi menjadi sulit selesai karena aku kesulitan. Bahkan kesulitan melihat bahwa hal tersebut hanya “pura-pura” sulit selesai. Tetapi kata “sulit” ini menyerangku ...

Eh! Bentar. Dalam beberapa menit barusan, aku tidak merasa kesulitan. Aku merasa gampang. Gampang karena berceloteh soal film “Senyap” sehingga lupa bahwa aku sedang kesulitan.


Jadi, ini formulasinya. Katakan “ini gampang”. Dan anggap saja si “tidak-gampang” (yang aku tak mau menyebut namanya) itu tidak ada. Kucuekin. Jadilah lupa. Buatlah ideologi menyenangkan dan memabukkan bahwa menulis tugas kuliah itu gampang. Mari berbohong. Supaya tidak gila. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar