Sekali lagi menambahi tulisan tidak penting. Aku ingat suatu hari berjuta tahun yang lalu ada seorang teman bertanya, "Apakah kesepian bisa membunuhku?" Ketahuan, batinku. Maksudku, ketahuan nyontek lagunya SLANK zaman itu: "Terbunuh Sepi". Bagaimanapun juga aku lupa apa jawabku. Mungkin nggak strategis dan profitable untuk diingat. Kurang lebih, aku tak pernah merasa bahwa kesepian mampu membunuh. Justru kita yang tak pernah bosan membunuhi sepi. Sehari bisa sampai belasan kali. Namun ibarat mati satu tumbuh seribu.
Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.
Tampilkan postingan dengan label kontroversi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontroversi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Juni 2012
Sepi itu Korban, Rame itu juga Korban
Label:
Aung Suu Kyi,
DK PBB,
ICRC,
janur kuning,
kesepian,
kontroversi,
mahkamah internasional,
membunuh sepi,
operasi trisula,
Partai Demokrat,
relationship,
sarkasme,
saving private ryan,
sendiri,
the hague
Sabtu, 30 Juli 2011
Marzuki Ali Sakit?

Ada apa dengan Marzuki Ali? Apakah ia sakit? Ucapannya kemarin yang mengusulkan pembubaran KPK lantaran salah satu pimpinannya bertemu Nazaruddin membuat saya sedikit kaget. Lebih melongo lagi ketika muncul pernyataan lanjutan untuk “mengampuni” para koruptor yang lari ke luar negeri. Piiran saya jadi berkecamuk. Jika hal ini terjadi di suatu negeri benua seberang sana – yang nama-nama pemimpinnya sulit dilafalkan – maka saya akan meneruskan menikmati makan malam dengan riang seperti biasa.
Saya jadi teringat perbincangan beberapa hari lalu dengan seorang pendidik di bidang hukum. Politik adalah ilmu untuk memutuskan sesuatu dengan bijaksana. Bukan “membuat kebijakan” itu sendiri. Dan sama sekali – mestinya – bukan ilmu untuk memperoleh dan atau melanggengkan kekuasaan. Tetapi, demi seluruh pahlawan yang tewas di zaman kemerdekaan, kok banyak ucapan politisi negeri ini berbau kentut ya: dan kita adalah lubang kakus yang – diharapkan – menerima begitu saja hasil metabolisme orang yang rakus.
Ah, aku jadi berpikir terlalu banyak.
Apalagi si Marzuki ini adalah wakil ketua dewan pembina Partai Demokrat, partai yang kini berkuasa di Indonesia Raya. Siapa ketuanya? Tak lain tak bukan adalah si presiden kita yang masih gembar pupuran nganggo tlethong.
Langganan:
Postingan (Atom)