Sekali lagi menambahi tulisan tidak penting. Aku ingat suatu hari berjuta tahun yang lalu ada seorang teman bertanya, "Apakah kesepian bisa membunuhku?" Ketahuan, batinku. Maksudku, ketahuan nyontek lagunya SLANK zaman itu: "Terbunuh Sepi". Bagaimanapun juga aku lupa apa jawabku. Mungkin nggak strategis dan profitable untuk diingat. Kurang lebih, aku tak pernah merasa bahwa kesepian mampu membunuh. Justru kita yang tak pernah bosan membunuhi sepi. Sehari bisa sampai belasan kali. Namun ibarat mati satu tumbuh seribu.
Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.
Tampilkan postingan dengan label kesepian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesepian. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Juni 2012
Sepi itu Korban, Rame itu juga Korban
Label:
Aung Suu Kyi,
DK PBB,
ICRC,
janur kuning,
kesepian,
kontroversi,
mahkamah internasional,
membunuh sepi,
operasi trisula,
Partai Demokrat,
relationship,
sarkasme,
saving private ryan,
sendiri,
the hague
Sabtu, 16 Juni 2012
Pagi Hari
Pagi hari seperti ini:
dingin, menyegarkan, berbau sabun, dan di hari Sabtu pula. Sisa-sisa pilek
kemarin masih menyebabkan hidung-tenggorokan tidak nyaman. Pening sedikit. Mulut
berasa seperti karat. Tambah sedikit absurd saat bangun tidur disambut lagu-lagu
melayu cengeng tetangga, disambung perdebatan siapa yang akan berangkat
mengambil raport. Ah, rumah di depan kamar. Mungkin suatu saat aku memindahkan
kamarku di depan hutan. Atau kebun binatang saja. Setidaknya suara lengkingan
gajah membuatku semangat, berasa menjadi Tarzan.
Aku tergoda untuk teringat
zaman masih kecil dulu, ketika menyambut hari tanpa sekolah. Bisa mandi agak
siang, bisa main lebih lama, bahkan bermain lebih jauh. Wah. Tetapi mengingat
masa kecil bukanlah langkah strategis hari ini. Mengingat banyak pekerjaan yang
menuntut untuk disentuh, mengingat banyak perubahan yang harus kulakukan, dan
mengingat bahwa memang sangat banyak yang harus diingat. [1]
Minggu, 10 Juni 2012
Sejarah Tidak Penting
“Pasti ada maksud, mengapa Tuhan membiarkan kita lahir di dunia ini sendiri-sendiri (tentu kecuali kasus kembar siam, misalnya). Pasti ada sebab, mengapa kia tidak lahir tanpa pasangan, kekasih, cinta mati kita, dalam satu kali melahirkan. Seandainya demikian, hidup akan jauuuh lebih sederhana. Sinetron-sinetron akan tidak laku dan kehilangan sengatnya. Namun, sekali lagi … pasti ada maksud tertentu”
Mon ami, ini
saatnya aku curhat. Dalam sebuah blog yang – thx God – anonymous ini, rasanya
tak salah jika di hari Minggu yang nyaman dan tenang ini aku sedikit
mengungkapkan atau lebih tepatnya “menelorkan” … membersihkan ingus kering … uthik-uthik upil, ngorek curek. Seperti
yang sering kutulis di blog-ku dulu yang sudah koit, menulis bagiku adalah
sarana agar tetap dianggap waras. Aku ini waras tetapi tidak gila.
Nah, begini ceritanya. Seperti
yang barusan aku SMS-kan ke seorang temanku, “Ra duwe yang ki anugerah.” Tidak punya pacar itu anugerah. (Perkara
kalian akan membatin bahwa ini adalah suara sarkastik agar Tuhan tersindir, itu
soal lain. Ga ada gunanya membuat Beliau tersindir. Lagi pula aku bukan orang
yang suka menyindir. Say it or telan
saja!) Bagaimanapun juga, tidak punya pacar adalah suatu hak asasi setiap
manusia. setiap orang punya hak untuk menerima suatu kondisi yang di dalamnya
ia tak memiliki kendali 100%. Dan tak satupun manusia memiliki kendali 100%
atas sesuatu, bukan?
Hahaha … aku kangen dengan
tulisanku sendiri yang muter-muter kayak jejak jangkrik gini. Hahaha. (Itulah
sebabnya tulisan ini disebut blog. Bukan The
Fundamental of Thermodynamics in Planet Tatooine by Master Jedi.)
Label:
kesepian,
putus cinta,
relationship,
sendiri,
teater,
yogya
Langganan:
Postingan (Atom)
