Sabtu, 16 Juni 2012

Pagi Hari


Pagi hari seperti ini: dingin, menyegarkan, berbau sabun, dan di hari Sabtu pula. Sisa-sisa pilek kemarin masih menyebabkan hidung-tenggorokan tidak nyaman. Pening sedikit. Mulut berasa seperti karat. Tambah sedikit absurd saat bangun tidur disambut lagu-lagu melayu cengeng tetangga, disambung perdebatan siapa yang akan berangkat mengambil raport. Ah, rumah di depan kamar. Mungkin suatu saat aku memindahkan kamarku di depan hutan. Atau kebun binatang saja. Setidaknya suara lengkingan gajah membuatku semangat, berasa menjadi Tarzan.

Aku tergoda untuk teringat zaman masih kecil dulu, ketika menyambut hari tanpa sekolah. Bisa mandi agak siang, bisa main lebih lama, bahkan bermain lebih jauh. Wah. Tetapi mengingat masa kecil bukanlah langkah strategis hari ini. Mengingat banyak pekerjaan yang menuntut untuk disentuh, mengingat banyak perubahan yang harus kulakukan, dan mengingat bahwa memang sangat banyak yang harus diingat. [1]


Bagaimanapun juga, kuakui aku sedang cukup menyendiri. Menyepi mungkin. Rasanya paruh pertama tahun ini banyak kuhabiskan untuk mengasingkan diri. Mungkin ini adalah kerentanan wajar, mungkin pula mastrubatif dan manipulatif. Tapi apapun itu, rasanya dalam beberapa tahun belakangan ini, baru kali ini aku bisa menikmati – sangat menikmati – kesendirian. Anonymous, bebas, dan what the hell ....

Lalu apa ang sebenarnya ingin kusampaikan? Mestinya jika aku menghormati Anda sekalian – para pembaca anonymous – maka aku sudah selayaknya membuat tulisanku lebih baik, setidaknya terstruktur, dan ada intinyalah .... Tentu saja. Namun sayangnya entah mengapa moodku lagi suka bermain blues.

Dan aku sudah memutuskan untuk tak mau kembali bergulat dan hal yang tak tentu. Tuhan tahu, aku sedang butuh untuk sendiri. Untuk sementara waktu. Bukan melarikan diri. Tetapi menghadapi dari sisi lain. Menghadapi apa? Sebenarnya aku ini menghadapi apa ya? Halah ... 

Selamat. Anda rugi waktu dan pikiran karena telah membaca tulisan ini.[2] Hahahaha ....


[1] Belum ada bukti nyata bahwa ingatan manusia akan lenyap setelah kita mati nanti. Jadi, mungkin Eran Katz benar, tak ada ruginya bersandar pada ingatan. Toh ingatan, buruk maupun baik, adalah kenyataan. Aku bosan menelikung kenyataan. Dan ingatan-ingatan tertentu kuharap benar-benar membantuku mnyelesaikan pekerjaanku hari ini, dan esok, dan lusa, dan sepanjang minggu depan.
[2] Sekali lagi aku hanya ingin waras lebih lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar