“Pasti ada maksud, mengapa Tuhan membiarkan kita lahir di dunia ini sendiri-sendiri (tentu kecuali kasus kembar siam, misalnya). Pasti ada sebab, mengapa kia tidak lahir tanpa pasangan, kekasih, cinta mati kita, dalam satu kali melahirkan. Seandainya demikian, hidup akan jauuuh lebih sederhana. Sinetron-sinetron akan tidak laku dan kehilangan sengatnya. Namun, sekali lagi … pasti ada maksud tertentu”
Mon ami, ini
saatnya aku curhat. Dalam sebuah blog yang – thx God – anonymous ini, rasanya
tak salah jika di hari Minggu yang nyaman dan tenang ini aku sedikit
mengungkapkan atau lebih tepatnya “menelorkan” … membersihkan ingus kering … uthik-uthik upil, ngorek curek. Seperti
yang sering kutulis di blog-ku dulu yang sudah koit, menulis bagiku adalah
sarana agar tetap dianggap waras. Aku ini waras tetapi tidak gila.
Nah, begini ceritanya. Seperti
yang barusan aku SMS-kan ke seorang temanku, “Ra duwe yang ki anugerah.” Tidak punya pacar itu anugerah. (Perkara
kalian akan membatin bahwa ini adalah suara sarkastik agar Tuhan tersindir, itu
soal lain. Ga ada gunanya membuat Beliau tersindir. Lagi pula aku bukan orang
yang suka menyindir. Say it or telan
saja!) Bagaimanapun juga, tidak punya pacar adalah suatu hak asasi setiap
manusia. setiap orang punya hak untuk menerima suatu kondisi yang di dalamnya
ia tak memiliki kendali 100%. Dan tak satupun manusia memiliki kendali 100%
atas sesuatu, bukan?
Hahaha … aku kangen dengan
tulisanku sendiri yang muter-muter kayak jejak jangkrik gini. Hahaha. (Itulah
sebabnya tulisan ini disebut blog. Bukan The
Fundamental of Thermodynamics in Planet Tatooine by Master Jedi.)
