Tampilkan postingan dengan label yogya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Wis Esuk

05.49 AM. Pagi semacam ini yang tidak begitu kusukai. Aku sudah bisa membuka mata sekitar 2-3 jam lalu, tetapi rasanya malas untuk bangun. Ingin terus bermimpi. Seperti nonton film nunggu klimaks yang tak kunjung datang. Seperti ada benang-benang halus kenikmatan yang memaksaku bersembunyi di bawah selimut, merayuku habis-habisan untuk tidak membuka mata, sembari tutup telinga rapat-rapat. Udara yang dingin menerobos ventilasi, bak zat magis ungu tua yang membuatku tersihir untuk memilih tidur terus. Suara kicau burung, bunyi gesekan sapu di halaman, gemerincing sepeda anak sekolah yang lewat di depan rumah, menjadi suara latar yang semakin meninabobokkan. Jangan bangun dulu, sayang. Dunia bisa menunggu.

Sayangnya, film harus usai, layar panggung harus diturunkan, dan tak ada lagi yang tersisa untuk dinikmati di alam mimpi. Ini adalah momen-momen di kala kita akan terasa pening jika memaksa diri tidur terus. Secara biologis, ini sudah waktunya bangun tidur. Bahkan tubuh biologisku sebenarnya mengizinkanku bangun sejak 2-3 jam lalu. Jadi, aku harus membuka mata, menguap lebar-lebar dan selama mungkin, menggeliat sambil menggeram panjang, lalu terdiam. Mataku menatap atap. Mataku berkabut dengan tahi mata dan segenap kotoran seperti biasanya. Aku jadi mirip beruang yang selesai hibernasi. Tetapi, ....

Minggu, 10 Juni 2012

Sejarah Tidak Penting


“Pasti ada maksud, mengapa Tuhan membiarkan kita lahir di dunia ini sendiri-sendiri (tentu kecuali kasus kembar siam, misalnya). Pasti ada sebab, mengapa kia tidak lahir tanpa pasangan, kekasih, cinta mati kita, dalam satu kali melahirkan. Seandainya demikian, hidup akan jauuuh lebih sederhana. Sinetron-sinetron akan tidak laku dan kehilangan sengatnya. Namun, sekali lagi … pasti ada maksud tertentu”
Mon ami, ini saatnya aku curhat. Dalam sebuah blog yang – thx God – anonymous ini, rasanya tak salah jika di hari Minggu yang nyaman dan tenang ini aku sedikit mengungkapkan atau lebih tepatnya “menelorkan” … membersihkan ingus kering … uthik-uthik upil, ngorek curek. Seperti yang sering kutulis di blog-ku dulu yang sudah koit, menulis bagiku adalah sarana agar tetap dianggap waras. Aku ini waras tetapi tidak gila.

Nah, begini ceritanya. Seperti yang barusan aku SMS-kan ke seorang temanku, “Ra duwe yang ki anugerah.” Tidak punya pacar itu anugerah. (Perkara kalian akan membatin bahwa ini adalah suara sarkastik agar Tuhan tersindir, itu soal lain. Ga ada gunanya membuat Beliau tersindir. Lagi pula aku bukan orang yang suka menyindir. Say it or telan saja!) Bagaimanapun juga, tidak punya pacar adalah suatu hak asasi setiap manusia. setiap orang punya hak untuk menerima suatu kondisi yang di dalamnya ia tak memiliki kendali 100%. Dan tak satupun manusia memiliki kendali 100% atas sesuatu, bukan?

Hahaha … aku kangen dengan tulisanku sendiri yang muter-muter kayak jejak jangkrik gini. Hahaha. (Itulah sebabnya tulisan ini disebut blog. Bukan The Fundamental of Thermodynamics in Planet Tatooine by Master Jedi.)

Sabtu, 30 Juli 2011

Jagongan Wagen Juli 2011


Sedikit jauh di luar kota. Lampu tempel minyak tanah yang disetel terlalu besar. Bayang-bayang bergulana di terpal oranye … hap … cakar bacem. Krauk … krupuk beras. Ji mo ji mo lu mo nem ji ji … pelajaran nembang serak menyelusup dari radio transistor. Sekali lagi angin menyemilir dari sawah di belakang. Lelampuan berlarian dari Yamaha dan Suzuki dan Honda di jalan beraspal di seberang sawah. “Tegal Jenggotan,” katanya.
Pulang dari nonton pentas yang ternyata di luar dugaan tidak sebagus yang kubayangkan sebelumnya, barangkali satu dua gigitan sate usus bisa mengobati dahaga filosofis malam tadi. Pun di angkringan pedalaman tengah kampung yang belum pernah ku – kami – kunjungi. Tapi ini masih malam.
Satu hal yang kupikirkan, mengapa sebuah pementasan bisa tertampil seperti itu. Ah, tapi bukan pada posisi dan kredibilitasku untuk menilai – apalagi menghakimi – sesuatu. Apa sih yang bisa didapat dari ranah gratisan. Sudah lumayan dapat setup jambu dan jahe panas kenthel. Namun barangkali ketika istilah “biasa” menjelma menjadi “keharusan”, barangkali ada ratusan penonton yang kecewa. Bung, tidak biasanya Jagongan Wagen di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menampilkan performance yang – maaf – terasa garing. Memang, mungkin mataku menipu.