Angin membawa apa saja ke dalam kehidupan. Kamu ingini, kamu tolak: sama saja. Angin juga yang mengambil apa saja. Tak peduli kamu genggam, kamu peluk, atau disembunyikan di bawah bantal.
Hujan lalu membasahi apa saja, menghanyut apa saja, melenyapkan jejak, menciptakan alur. Dalam butiran air, ia melesapkan kisah ke dalam tanah. Menguapkan renjana. Menjadi awan-awan.
Lalu malam turun menyelimuti apa saja dalam gelap. Saatnya bertemu diri. Yang disisakan angin. Dalam awan-awan.
Dan mimpinya lagi-lagi tentang tunas. Mati-matian agar tak direbut angin.
Bersujud memohon doa pada matahari. Agar awan meneteskan embun. Bukan banjir bandang. Dalam waktu yang menyempit. Dan udara yang menghimpit.
Minggu, 12 Januari 2014
Jumat, 20 Desember 2013
Hujan
Pagi-pagi hujan seperti ini. Suara butiran airnya
mengingatkan aku pada ombak dan angin. Tetesan air yang satu demi satu meluncur
dari ujung daun memantulkan kelabunya langit. Di balik kaca jendela, kamarku
terang dan hangat (meski kotor, pating
jemplah, dan apek). Di balik kaca jendela di dalam kaca jendela, aku
berwarna hijau laut.
Bunyi tetesan air. Teringat suatu perjalanan yang belum
selesai. Memutari gunung mengatasi tanjakan, melihat puncak-puncak bukit
berkabut dari sela pohon, dan bunga-bunga liar yang basah. Aku di sana atau
benakku di sana tidaklah beda. Karena “tidak beda” itu ilusi dan pengalaman itu
imajinatif. Dalam perjalanan itu aku menemukan pondok. Mirip saat aku dan Kamto
belasan tahun lalu menemukan warung kopi di tengah hujan dan dingin setelah
memanjat tebing Kali Kuning. Mirip Kapten Haddock menemukan pelabuhan ketika
botol-botolnya kosong. Lalu burung-burung pagi yang enggan terbang
memanfaatkannya dengan menciptakan quality
time, mendongeng tentang sahabat lama bernama hujan. Hadir saat gemalau
berwarna lembayung dan awan kelabu adalah air tempat kuas Tuhan dibersihkan
setelah mahakarya-Nya dipajang tiap pagi dan senja.
Label:
hujan,
membunuh sepi,
pagi,
pagi hari,
tidak penting,
writting
Kamis, 31 Oktober 2013
Resah
Secepat semua partikel meluruh menjadi debu tak tampak, aku
kehilangan keresahan yang menyebabkan berkas-berkas RGB berubah menjadi
belati-rencong tak tampak. Sungguhpun ada, aku tidak di sana. Benar pun
tusukan-tusukan itu menajamkan rasa, terbangun di tengah malam, terjaga di dni
hari, dan oh lihatlah, radang itu berubah menjadi segupal keju yang terjatuh
dari jendela becak. Berkeriut hatiku maju untuk tamparan selanjutnya. Tanpa mengelak,
tanpa bisa memaksudkan diri untuk mengelak.
Jangan berteriak. Tetangga aan bangun. Pasung akan melekat. Lalu
hilang melenyap memunculkan mimpi tidur ayam. Bagaimana kamu bisa lari dari
semua ini. Lalu melesap tanpa kata.
Tembok tidak tampak dibangun di mana-mana. Meresah. Mengajak
embun mendesah. Aku ingin hujan. Melumerkan kala, melipat sabda, membawaku ke
pangkuan Gusti Allah. Yang tak pernah bosan mengerjaiku.
Siapa bilang aku harus ada.
Resah
Secepat semua partikel meluruh menjadi debu tak tampak, aku
kehilangan keresahan yang menyebabkan berkas-berkas RGB berubah menjadi
belati-rencong tak tampak. Sungguhpun ada, aku tidak di sana. Benar pun
tusukan-tusukan itu menajamkan rasa, terbangun di tengah malam, terjaga di dni
hari, dan oh lihatlah, radang itu berubah menjadi segupal keju yang terjatuh
dari jendela becak. Berkeriut hatiku maju untuk tamparan selanjutnya. Tanpa mengelak,
tanpa bisa memaksudkan diri untuk mengelak.
Jangan berteriak. Tetangga aan bangun. Pasung akan melekat. Lalu
hilang melenyap memunculkan mimpi tidur ayam. Bagaimana kamu bisa lari dari
semua ini. Lalu melesap tanpa kata.
Tembok tidak tampak dibangun di mana-mana. Meresah. Mengajak
embun mendesah. Aku ingin hujan. Melumerkan kala, melipat sabda, membawaku ke
pangkuan Gusti Allah. Yang tak pernah bosan mengerjaiku.
Siapa bilang aku harus ada.
Minggu, 15 September 2013
Ulangan
![]() |
| foto apa ni ya? (foto: noel) |
Beberapa hari yang lalu aku ulang tahun. Aku sadar betul
bahwa usiaku semakin bertambah dan masa pakai tubuhku di dunia fana ini kian
berkurang. Jika dulu aku dapat push up 100 kali tiap pagi, atau berlari 3 kilo
seminggu tiga kali, maka kini mungkim kini tidak lagi se-ngoyo itu. Ibarat aset, barang kali diriku juga mengalami
depresiasi nilai setiap tahunnya. Bagaimanapun juga, ekor telomerase kian
pendek. Seperti kembang api yang makin habis, atau batere laptop yang pasti
akan dol. Maka, mungkin suatu saat,
ketika “nilai buku” diriku sudah begitu kecilnya (dan biasanya secara akuntansi
sudah dianggap tidak ada), maka akan diadakan lelang. Atau lebih buruk
lagi,akan digudangkan, menjadi teman karat dan digerayangi tikus. Finished.
Jumat, 06 September 2013
Tidak Penting
![]() |
| Klenteng depan Pasar Kranggan Yogya (foto: noel) |
Mestinya saat ini aku sedang mempersiapkan sesuatu yang
genting dan cukup penting. Ah, penting itu relatif. Tapi aku tak berani
mengatakan bahwa genting itu relatif. Maklum, hal itu akan memengaruhi mood
orang-orang di ujung sana, pekerjaan di ujung satunya, dan berjibun tuntutan di
ujung lainnya. Ujungnya memang banyak!
Lucunya, dari semua hal penting gemting yang saat ini harus
dilakukan, yang paling tidak penting dan paling tidak genting adalah menulis
blog. Lalu, mengapa memilih yang tidak penting? Itu karena aku tidak harus
memilih yang penting. Siapa suruh. Lagi pula, kepalaku ini rasanya sudah jebol-jebol
mawut berceceran ngos-ngosan untuk memikir satu hal penting yang sederhana
sekalipun. Bagaimanapun juga, thank’s God, masih banyak hal tidak penting di
dunia ini yang bisa dilakukan.
Minggu, 01 September 2013
Ngeblog
![]() |
| Bak truk di Jalan Wonosari, Feb 2013 (foto: Noel) |
Apalagi konon sekarang ini sudah bukan zamannya blogging. Ini era fesbuk, twitter, line, BBM, waslap .... Apa tuh blogwalking? Anak-anak generasi millenium (yang dibaptis sebagai digital native) sudah tidak tahu. Seiring dengan lenyapnya dengungan fan CPU 486 dan disket selebar netbook berisi kurang dari 1/8000 kapasitas flesdis-ku.
Lalu mengapa blogging? Sambil berharap agar orang-orang yang gemas menunggu kerjaanku ga rampung-rampung terhindar untuk membaca postingan ini, aku akan berkata jujur, bahwa aku sedang mengalami perasaan campur baur ruwet pat gulipat neng nong neng gung; dan pikiran berputar-putar di labirin bertingkat seratus plus 9 dimensi. Tetapi kata simbah, itu wajar. Ah, jadi kangen simbahku.
Langganan:
Postingan (Atom)



