Belum lama ini ia bertanya, "Hidup ini sebenarnya tujuannya apa to?" Nggak sampai 5 detik, dia meneruskan, "Aku ngomong sama diriku sendiri, lho." Aku tidak jadi berkomentar. Kalau tidak salah, aku kembali membenamkan kepalaku ke depan layar monitor. Tetapi tidak lama. Aku telanjur ingin berkomentar, meski aku tak tahu mau kasih komentar apa. Memang mulut ini gampang untuk memberi komentar, ya ... tanpa berpikir, tanpa memikirkan. Itulah sebabnya disebut mulut. Lebih pas lagi disebut "cangkem". Dan bukan brutu, apalagi paha.
Aku hanya teringat bahwa bagi sebagian orang hidup adalah pencapaian. Pencapaian itu bisa bermacam-macam: uang, kekuasaan, seks, kenyamanan ... Bisa juga pencapaian rohani, spiritual, kepenuhan emosi, dan sebangsanya. Mungkin bagi satu dua orang pencapaian itu adalah tubuh kekar berotot.
Rabu, 06 Februari 2013
Minggu, 03 Februari 2013
Menulis
Beberapa hari lalu Mbak Kris menyarankan agar aku meneruskan ngeblog. Beberapa bulan lalu, aku berniat untuk meneruskan menulis blog. Sepertinya kembali menulis blog secara rutin adalah ide yang lumayan bagus. Tetapi sebagaimana ingatan melawan lupa, menjaga rutinitas menulis -- apalagi bagi orang yang kerap didera bosan seperti aku ini -- ibarat mendorong batu ke atas bukit, lalu menggelindingkannya ke bawah, lalu mendorong lagi, menggelindingkannya lagi. Seperti Sisypus.
Aku jadi teringat saat melempar bola tenis bekas ke lapangan, terus diambil oleh anjingku dengan bersemangat. Ekor mengibas-ngibas, lidah yang terjulu, napas mendengus keras, ... Padahal kalau dipikir-pikir, buat apa ia mengambilkan aku bola tenis kalau nantinya juga kulempar. Sisypus dalam wujud Canis lupus familiaris! Dengan superioritas spesiesku yang tidak superior ini, aku kerap melirik masam ke sang anjing, sambil memberi perintah tolol. "Ambil bola itu. Cepat. Cemet!". Menggertak hanya untuk sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Toh kalau anjingku sebenarnya hanya ingin berolah raga, ia bisa minta diputarkan MP3 SKJ 88 (Senam Kesegaran Jasmani 1988).
Aku jadi teringat saat melempar bola tenis bekas ke lapangan, terus diambil oleh anjingku dengan bersemangat. Ekor mengibas-ngibas, lidah yang terjulu, napas mendengus keras, ... Padahal kalau dipikir-pikir, buat apa ia mengambilkan aku bola tenis kalau nantinya juga kulempar. Sisypus dalam wujud Canis lupus familiaris! Dengan superioritas spesiesku yang tidak superior ini, aku kerap melirik masam ke sang anjing, sambil memberi perintah tolol. "Ambil bola itu. Cepat. Cemet!". Menggertak hanya untuk sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Toh kalau anjingku sebenarnya hanya ingin berolah raga, ia bisa minta diputarkan MP3 SKJ 88 (Senam Kesegaran Jasmani 1988).
Kamis, 05 Juli 2012
Morning Sh*t
Today, I think I need to do something better than yesterday.
I am not a good planner; moreover, unfortunately, I am not a good worker to
realize all I had planned. This morning, in the middle of a lot of things I
have to do today (when I felt trapped to manage them all since I woke up), I
got an ideas for my blog. Not for this one, another blog. It’s more serious
blog. But in the first 30 minutes, I couldn’t compose all the ideas into
sentences and type them down on my notebook. I wrote, I deleted, wrote again,
deleted again. It’s just like some small frustration in the morning. It was
suck. I hate this.
So, I have more 30 minutes (25 exactly), and I will write
something here. It won’t be something important. This is about me. This is
about how the bad mood grows while I need some better mood to do these all. It’s
unproductive. But, who said about productivity? I am not an industrial agent; I
am not a machine in the complex array of tools and devices. It’s just me. I
hate to wake up with many things to do. I just want to wake up with wide space
of time. But, you’ll tell me that I’m not realistic, wont you?
Kamis, 28 Juni 2012
Tulisan Tidak Penting Lainnya
Menulis itu bikin malas. Menulis
membuatku menunda mandi, menunda makan, dan menunda tidur lagi. Tetapi mungkin
menulis jadi salah satu alasan agar aku tetap berpikir dan tidak tidur-tiduran
seperti sayuran sepanjang hari. Lagipula, mungkin karena menulis sesuatu yang
tidak penting justru mengemban misi mulia nan penting untuk menjaga diriku
tetap waras. Terlepas apakah aku waras atau tidak, setidaknya saya menduga kita
sama-sama setuju bahwa kewarasan itu perlu.
Ngelantur soal kewarasan,
jadi ingat bukankah kewarasan itu hanya persoalan kurva normal? Dan siapakah
maha dewa agung yang menciptakan kurva normal sehingga memisahkan manusia dari
waras dengan tak waras? Saya tidak tahu. Pula, saya tak mau menambahi pekerjaan
dengan mencari hal yang tak perlu. Toh, Anda pasti tidak mau memberi fee untuk
itu.
Jelasnya, kurva normal itu
tak perlu dipahami secara akademis dan ndakik-ndakik
scientific thinking oleh mendiang
simbah saya untuk menentukan apakah unggas yang ada ditangannya seekor ayam
atau bebek. Cukup melihat sekilas, beliau tahu betul bahwa ayam jauh berbeda
dengan bebek. Tanpa perlu tes DNA.
Rabu, 20 Juni 2012
Sepi itu Korban, Rame itu juga Korban
Sekali lagi menambahi tulisan tidak penting. Aku ingat suatu hari berjuta tahun yang lalu ada seorang teman bertanya, "Apakah kesepian bisa membunuhku?" Ketahuan, batinku. Maksudku, ketahuan nyontek lagunya SLANK zaman itu: "Terbunuh Sepi". Bagaimanapun juga aku lupa apa jawabku. Mungkin nggak strategis dan profitable untuk diingat. Kurang lebih, aku tak pernah merasa bahwa kesepian mampu membunuh. Justru kita yang tak pernah bosan membunuhi sepi. Sehari bisa sampai belasan kali. Namun ibarat mati satu tumbuh seribu.
Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.
Entah mengapa telinga bawah sadarku menangkap bunyi senapan mesin dari film "Janur Kuning" dan "Operasi Trisula". Nyawa menjadi relatif harganya. Sementara presiden Suriah membunuhi rakyatnya sendiri dengan kecepatan yang mengagumkan serta ignorance yang tak kalah mengagumkan dari forum internasional, belasan prajurit gugur gara-gara menyelamatkan si kroco Ryan (lihat "Saving Private Ryan"?). Dari itu semua, ditambah puluhan ayam kampug yang tiap pagi dibantai di Pasar Terban tanpa sedikit pun penyesalan, apalagi keterlibatan ICRC, The Hague, atau DK PBB (sementara Aung Suu Kyi dipuja-puja di Eropa). Mengabaikan fiksi-nonfiksi, realita-surealis, optimis-sarkastik, bisa disimpulkan bahwa kematian itu memang relatif.
Label:
Aung Suu Kyi,
DK PBB,
ICRC,
janur kuning,
kesepian,
kontroversi,
mahkamah internasional,
membunuh sepi,
operasi trisula,
Partai Demokrat,
relationship,
sarkasme,
saving private ryan,
sendiri,
the hague
Sabtu, 16 Juni 2012
Pagi Hari
Pagi hari seperti ini:
dingin, menyegarkan, berbau sabun, dan di hari Sabtu pula. Sisa-sisa pilek
kemarin masih menyebabkan hidung-tenggorokan tidak nyaman. Pening sedikit. Mulut
berasa seperti karat. Tambah sedikit absurd saat bangun tidur disambut lagu-lagu
melayu cengeng tetangga, disambung perdebatan siapa yang akan berangkat
mengambil raport. Ah, rumah di depan kamar. Mungkin suatu saat aku memindahkan
kamarku di depan hutan. Atau kebun binatang saja. Setidaknya suara lengkingan
gajah membuatku semangat, berasa menjadi Tarzan.
Aku tergoda untuk teringat
zaman masih kecil dulu, ketika menyambut hari tanpa sekolah. Bisa mandi agak
siang, bisa main lebih lama, bahkan bermain lebih jauh. Wah. Tetapi mengingat
masa kecil bukanlah langkah strategis hari ini. Mengingat banyak pekerjaan yang
menuntut untuk disentuh, mengingat banyak perubahan yang harus kulakukan, dan
mengingat bahwa memang sangat banyak yang harus diingat. [1]
Minggu, 10 Juni 2012
Sejarah Tidak Penting
“Pasti ada maksud, mengapa Tuhan membiarkan kita lahir di dunia ini sendiri-sendiri (tentu kecuali kasus kembar siam, misalnya). Pasti ada sebab, mengapa kia tidak lahir tanpa pasangan, kekasih, cinta mati kita, dalam satu kali melahirkan. Seandainya demikian, hidup akan jauuuh lebih sederhana. Sinetron-sinetron akan tidak laku dan kehilangan sengatnya. Namun, sekali lagi … pasti ada maksud tertentu”
Mon ami, ini
saatnya aku curhat. Dalam sebuah blog yang – thx God – anonymous ini, rasanya
tak salah jika di hari Minggu yang nyaman dan tenang ini aku sedikit
mengungkapkan atau lebih tepatnya “menelorkan” … membersihkan ingus kering … uthik-uthik upil, ngorek curek. Seperti
yang sering kutulis di blog-ku dulu yang sudah koit, menulis bagiku adalah
sarana agar tetap dianggap waras. Aku ini waras tetapi tidak gila.
Nah, begini ceritanya. Seperti
yang barusan aku SMS-kan ke seorang temanku, “Ra duwe yang ki anugerah.” Tidak punya pacar itu anugerah. (Perkara
kalian akan membatin bahwa ini adalah suara sarkastik agar Tuhan tersindir, itu
soal lain. Ga ada gunanya membuat Beliau tersindir. Lagi pula aku bukan orang
yang suka menyindir. Say it or telan
saja!) Bagaimanapun juga, tidak punya pacar adalah suatu hak asasi setiap
manusia. setiap orang punya hak untuk menerima suatu kondisi yang di dalamnya
ia tak memiliki kendali 100%. Dan tak satupun manusia memiliki kendali 100%
atas sesuatu, bukan?
Hahaha … aku kangen dengan
tulisanku sendiri yang muter-muter kayak jejak jangkrik gini. Hahaha. (Itulah
sebabnya tulisan ini disebut blog. Bukan The
Fundamental of Thermodynamics in Planet Tatooine by Master Jedi.)
Label:
kesepian,
putus cinta,
relationship,
sendiri,
teater,
yogya
Langganan:
Postingan (Atom)




